Brebes Jadi Kawasan Industri, Perlukah Pabrik Pengolahan Limbah B3?

>

Brebes, Harianbrebes.com, – Diantara pabrik-pabrik yang beroperasi di Kawasan Industri Brebes tentu ada limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang harus ditangani dengan baik agar menjadi ramah lingkungan.

Adanya pembangunan pabrik pengolahan limbah B3 di Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Brebes yang dikhawatirkan oleh masyarakat setempat itu justru nantinya sangat dibutuhkan. Hal yang demikian itu seperti halnya yang disampaikan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pengolahan Sampah (DLHPS) Kabupaten Brebes, Budhi Darmawan saat ditemui sejumlah wartawan di kantornya, Rabu (22/1/2020).

“Pabrik-pabrik yang berdiri di Brebes itu semuanya ada limbah B3. Kalau tidak ditangani dengan baik, justru akan membahayakan lingkungan. Belum lagi limbah medis dari Puskesmas dan rumah sakit,” katanya.

Saat ini, menurutnya, baru RSUD Brebes yang memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL) dengan insenerator. Itupun, RSUD Brebes hanya mengolah limbahnya sendiri dan tidak diperbolehkan menerima limbah B3 dari luar.

Bahkan selama ini, perusahaan di Brebes yang memiliki limbah B3 itu bekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengumpulkan dan mengirimnya ke IPAL di Bogor. Adapun, jauhnya jarak pengolahan limbah tersebut membuat biaya pengiriman sangat mahal. Karenanya diharapkan, dengan adanya pabrik pengolahan limbah B3 di Brebes, nantinya semua limbah B3 dapat diolah di pabrik tersebut.

“Mengenai apakah pabrik pengolahan limbah B3 ini aman dan tidak membahayakan lingkungan, kita lihat kajian Amdalnya. Karena saat ini, masih dalam tahap penyusunan Amdal,” ucapnya.

Kepala Bidang Perencanaan dan Penataan Lingkungan DLHPS Brebes, Nelva P menambahkan, sudah seharusnya Brebes miliki pabrik pengolahan limbah B3. Jika tidak ada, justru limbah B3 dari pabrik-pabrik yang ada di Brebes dikhawatirkan dibuang sembarangan.

Terkait perizinan, Nelva menuturkan, DLHPS Brebes hanya memberikan rekomendasi saja. Sedangkan izin pengolahan dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Namun, rekomendasi dikeluarkan setelah kajian Amdal selesai disusun.

“Prosesnya masih lama, karena saat ini dalam penyusunan kajian Amdal. Mereka sudah pernah melakukan public hearing. Kalau izin yang sudah kami berikan itu pengumpulan limbah. Lha sekarang ini perluasan menjadi pengolahan,” jelasnya.

Menurutnya, dalam kajian Amdal yang sedang disusun, nantinya akan diketahui cara penanganan dampak yang muncul. Ia menduga, kekhawatiran warga dikarenakan ketidakpahaman mengenai mekanisme dan pentingnya pengolahan limbah B3.

Diberitakan sebelumnya, belasan warga Desa Cimohong, Kecamatan Bulakamba, Brebes, mengatasnamakan Forum Masyarakat Peduli Lingkungan, melakukan aksi penolakan berdirinya pabrik pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Aksi penolakan dilakukan dengan melakukan pemasangan spanduk di beberapa titik dan penggalangan petisi warga Desa Cimohong. Penolakan dilakukan karena warga khawatir akan bahaya limbah B3.

Seorang warga Cimohong, Sakri mengatakan, penolakan dilakukan secara spontanitas. Alasannya, warga khawatir adanya pabrik pengolahan limbah B3 yang dibangun CV Bumi Slamet, nantinya akan berdampak buruk bagi warga dan lingkungan.

“Kami khawatir pabrik itu berdampak dan mencemari lingkungan. Oleh karena itu kami melakukan penolakan,” kata Sakri.

Dikatakannya, pendirian pabrik pengolahan limbah B3 juga tidak ada sosialisasi. Setahu warga, pabrik yang saat ini dalam proses pembangunan tersebut untuk pencucian pasir. Namun belakangan diketahui menjadi pengolahan limbah. (Nal/Gust)