Selamatkan Negara Dengan Berdiam Diri di Rumah

/

Brebes, Harianbrebes.com,- Pribahasa “diam itu emas” seolah menjadi sebuah pesan yang sangat penting untuk kita laksanakan ditengah bencana yang melanda negara Indonesia bahkan dunia.

Sejak mewabahnya Covid-19 yang melanda berbagai negara di dunia termasuk Indonesia, berbagai kebijakan telah diterbitkan guna menangani dan menanggulangi penyebaran dan penularan virus yang ganas ini.

Pemerintah Indonesia bersama dengan pemerintah Daerah telah sepakat untuk bersama-sama memerangi virus ini. Keputusan pemerintah untuk meliburkan seluruh lembaga pendidikan dan juga membatasai pelayanan-pelayanan umum merupakan sebuah tindakan yang tepat.

Selain itu pemerintah pusat dan pemerintah daerah juga menginstruksikan kepada masyarakat untuk tidak mengadakan kegiatan-kegiatan yang bersifat mengumpulkan masyarakat baik itu kegiatan agama, seremoni, budaya, olahraga, seni bahkan pesta hajatan harus ditunda terlebih dahulu. Hal ini tentu dilakukan demi kebaikan dan keselamatan masyarakat.

Jadilah Pejuang dengan Berdiam Diri
Seluruh peraturan dan langkah-langkah yang dilakukan pemerintah dalam menangani Corona ini tentu tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya kerja sama dari masyarakat.

Instruksi yang terus disampaikan kepada masyarakat agar tetap di rumah tentu harus ditaati dan disambut baik oleh seluruh lapisan masyarakat. Virus merupakan mahluk mikroskopis yang tidak bisa terlihat oleh indra manusia, bahkan orang yang sudah terkena virus ini tidak serta merta menunjukan gejala-gejala sakit.

Hal ini disebabkan karena sistem imunitas tubuh anatara satu orang dengan orang lain berbeda. Apabila masyarakat menyepelekan anjuran ini tentu dalam sehari satu orang bisa bersosialisasi dengan puluhan orang dengan kondisi kesehatan yang tidak diketahui.

Jika hal ini terjadi maka yang ditakutkan penyebaran dan penularan virus corona ini akan terjadi secara masiv. Untuk itu diam di rumah jika tidak ada hal yang penting merupakan sebuah solusi tepat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Jadilah “Pemudik” yang Bijak
Selain anjuran untuk berdiam diri di rumah, pemerintah juga menghimbau kepada masyarakat yang saat ini sedang merantau untuk tidak pulang kampung.

Ganjar Pranowo selaku Gubernur Jawa Tengah juga terus melakukan himbauan kepada masyarakat khususnya masyarakat Jawa Tengah yang sedang merantau agar jangan pulang kampung jika masih sayang dengan keluarga, tetangga dan masyarakat.

Meski begitu ternyata beberapa minggu terakhir para perantau yang pulang kampung jumlahnya terus bertambah. Di Wilayah Ketanggungan Selatan yang meliputi Desa Buara, Cikeusal Lor sampai dengan Desa Jemasih setiap harinya ada saja angkutan Travel yang membawa pemudik.

Hal demikian tentu menjadi sebuah kehawtiran, mengingat para pemudik mayoritas berasal dari daerah yang pandemi corona seperti Jakarta. Untuk meminimalisir terjadinya penyebaran Covid-19 para pemudik harus mengikuti SOP atau alur yang ada yaitu dengan melakukan pengecekan kesehatan ke Layanan Kesehatan terdekat atau melalui Posko-posko kesehatan Penanganan Corona yang telah disiapkan. Setelah sampai di rumah pemudik harus mengisolasi diri di rumah hingga 14 hari. Apabila ada gejala-gejala seperti demam, sesak nafas, panas maka segera menghubungi pihak kesehatan terdekat.

Butuh Kerja Sama Semua Pihak
“Kami disini untuk kalian, dan kalian mohon tetap di rumah untuk kami”, pesan itulah yang disampaikan para petugas medis kepada masyarakat agar saling bekerja sama untuk menghadapi Covid-19.

Para petugas medis sedang berjuang untuk merawat pasien-pasien yang sudah terinfeksi Corona bahkan mereka sampai mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Sebagai masyarakat kita harus membantu mereka untuk mengurangi penyebaran virus ini. Penanganan virus ini harus dilakukan oleh semua pihak mulai dari pemerintah pusat, daerah hingga pemerintah Desa. Berbagai usaha harus dilakukan guna memastikan kondisi lingkuan desa, tempat-tempat ibadah dan tempat umum lainnya bersih dari virus Corona. Seperti yang telah dilakukan di beberapa desa di Kecamatan Ketanggungan.

Pada hari sabtu, tanggal 28 Maret 2020 lalu terlihat sekelompok masyarakat tengah membersihkan tempat-tempat umum di wilayah Ketanggungan menggunakan cairan disinfektan seperti Mesjid, pasar dan jalan yang ramai warga serta rumah-rumah.

Moh. Rizki Ubaidillah (Anggota DPRD Kab. Brebes) yang merupakan koordinator kegiatan menuturkan “Penanganan wabah ini perlu kerja sama yang baik antara pemerintah daerah dan masyarakat. Para pejabat daerah termasuk kepala desa harus benar-benar peka dan peduli terhadap situasi dan kondisi yang ada dimasyarakatnya”.

Selain itu Anggota DPRD dari Fraksi PDIP yang masih cukup muda ini juga menambahkan bahwa jangan sekali-kali menyepelekan virus ini, karena virus ini tidak memandang status sosial, gender, usia, agama dan kedudukan, semua orang bisa terkena jadi semua masyarakat harus waspada.

Kegiatan ini merupakan stimulus agar setiap desa bisa melakukan kegiatan seperti ini. Kegiatan serupa ternyata juga telah dilaksanakan di beberapa Desa Di Wilayah Ketanggungan Selatan seperti Buara, Cikeusal lor, Cikeusal Kidul dan desa lainnya.

(Pemerintah Desa Cikeusal Lor akan melakukan Penyemprotan Disinfektan di lingkungan Desa Cikeusal Lor)
Kejadian yang menimpa Italia diamana korban Covid-19 sangat banyak sekali, seharusnya menjadi pelajaran bagi kita semua agar lebih waspada terhadap keganasan Covid-19 ini.

Tindakan pencegahan tentu menjadi sesuatu yang lebih baik dilakukan sebelum terlambat. Masyarakat jangan menyepelekan anjuran-anjuran dari pemerintah demi kebaikan bersama. Keputusan pemerintah untuk menunda pesta pernikahan dan hajatan lainnya tentu menjadi sebuah hal yang dilematis.

Namun warga masyarakat harus memahami kondisi yang terjadi saat ini. Prinsipnya adalah harus rela menunda kepentingan beberapa orang demi keselamatan masyarakat yang lebih banyak. Pemerintah Desa harus tegas untuk menerapkan aturan-aturan yang telah dibuat, dengan memberikan pemahaman terlebih dahulu kepada masyarakat. (*/Tfk/Gust)

*Oleh : Supriyatna (Guru Bahasa Inggris SMK Ma’arif NU 01 Ketanggungan)