Wito : Seimbangkan Beternak Kambing dan Khidmah di Banser

o /

Brebes, Harianbrebes.com,- Bau kambing bagi Adi Sarwito (39) sudah menjadi aroma yang sedap dalam hidungnya. Karena setiap hari bercengkerama dengan kambing-kambing di kandangnya. Dia dengan semangat menyiapkan pakan ternak, membersihkan kandang, bahkan menyembelih kambing menjadi untuk keperluan aqiqah maupun warung sate.

“Saya awalnya hanya menjadi suruhan juragan kambing untuk mengantar kambing ke pasar dengan menggunakan becak,” tutur Adi Sarwito mengawali cerita menjadi seorang peternak kambing, di kandangnya, Rabu (29/7) kemarin.

Kang Wito -demikian panggilan akrabnya, meskipun beternak kambing tidak melepaskan pengabdiannya sebagai anggota Banser sejati. Dirinya tidak pernah absen dalam berbagai kegiatan ke-NU-an di wilayah Jatibarang, Brebes. Justru lewat kegiatan NU dirinya makin terkenal sebagai BPK. Bukan Badan Pemeriksa Keuangan tetapi Banser Peternak Kambing.

“Ada barokah ikut Banser, karena saya makin terkenal dan dagangan saya laris, termasuk jasa menyembelih kambing juga saya layani,” ungkapnya.

Sebelumnya, berbagai profesi dia jalani seperti menjadi buruh kasar di bongkar muat jagung, mencari rongsok, jual ayam potong, sampai tukang becak.

Sebagai tukang becak, Kang Wito di percaya juragan kambing untuk membawakan kambing-kambingnya ke pasar kambing dengan menggunakan becaknya. Banyak yang mengira kalau dirinya penjual kambing. Suatu saat ada yang meminta pesanan langsung kepadanya untuk mencarikan kambing buat aqiqah.

“Sejak saat itulah, saya mulai niat dan belajar dunia perkambingan berupa jual beli kambing dan jasa pemotongan kambing,” ungkapkenang Kang Wito.

Awalnya, lanjutnya, hanya 1 pasang bibitan dan semakin lama makin berkembang hingga sekarang memelihara 52 ekor kambing.

Suami dari Marfuah ini bersyukur, di moment Idul Adha bagai panen raya bagi peternak kambing, termasuk kambingnya juga sudah laris manis.

“Kambing saya hanya 52 ekor, tapi pesanan hingga kini sudah 70 ekor. Maka saya kerja sama dengan teman-teman lainnya untuk menyediakan kekurangan itu,” terangnya.

Untuk Jatibarang, kata Wito, hewan Kambing sangat dibutuhkan. Karena di Jatibarang banyak pedagang sate kambing. Juga memenuhi kebutuhan harian dalam skala kecil seperti Aqiqoh, hajatan, rutinan dan acara syukuran kenaikan pangkat ataupun apa, dilayaninya.

Selain beternak kambing dan menjadi pemotong kambing dengan tekun, teliti dan cermat serta jujur, Kang Wito juga aktif di Banser Ansor Jatibarang Brebes. Baginya, lewat kegiatan NU sebagai Banser diyakini telah mendatangkan keberkahan dan bisa menyeimbangkan diri antara fisik dan psikis, antara kepuasan lahir dan batin.

Menurutnya, menjadi Banser merupakan anugerah tersendiri karena disamping khidmah kepada Jamiyyah Nahdlatul Ulama juga bagian dari ikhtiar menjaga NKRI. Dia kepengin menjadi banser yang biasa saja, tapi menjadi Banser Enterpreneur yang luar biasa, luar biasa barokahnya.

“Saya merasakan barokahnya selama 15 tahun menjadi banser dan usaha ternak, jual beli, dan jasa penyembelihan kambing,” tuturnya dengan bangga.

Kang Wito bergabung menjadi anggota Banser sejak 1999 sedangkan mulai menekuni dunia perkambingan sejak 2005. Bapak dari 4 anak itu selalu aktif di kegiatan-kegiatan Ansor-Banser, bahkan saat ini Kang Wito mendapat amanah menjadi Kasatkoryon Banser Jatibarang 2012-2020 atau 4 periode dan terakhir Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PAC GP Ansor Kec. Jatibarang 2020-2022.

Dari awal, lanjutnya, yang memotivasi Wito menjadi banser adalah untuk mengaji ilmu agama. Dia sadar hanya tamatan SD Kebonagung, sehingga merasa butuh pengetahuan-pengetahuan agama sebagai modal untuk menjalani hidup. Keinginan ini semakin kuat setelah dirinya aktif di IPNU ranting sejak tahun 1994.

Kang Wito semakin banyak teman yang mendorong dalam hal kebaikan, hampir tiap malam bersama teman-temannya, aktif mengikuti majelis-majelis ilmu yang digelar para Kiai di Jatibarang.

“Yang paling berkesan bagi saya adalah, bisa dekat dengan para Kiai karena bisa di majelis-majelis ilmu, dan berkesempatan ikut mengawal para Kiai saat berkegiatan di luar daerah,” ucapnya penuh semangat.

Dia berprinsip bahwa rejeki yang telah Allah tetapkan itu tidak akan salah tempat. Dirinya membagi waktu, siang hari kasab (bekerja) mengurus kambing baik di pasar maupun di kandang, malam harinya melaksanakan tugas-tugas Banser.  Kalaupun sedang tidak ada kegiatan Banser, dia bersilaturahmi keliling ke sahabat Ansor di ranting-ranting meski sekadar ngopi dan ngobrol ngalor ngidul.

“Dan silaturahmi inilah, yang saya yakini mendatangkan keberkahan berada ditengah tengah teman Banser (NU). Alhamdulillah banyak orang mempercayakan pembelian kambing dan pemotongannya kepada saya,” kata dia.

Kang Wito, bertekad selalu totalitas dan yaqin menjadi pengembala, seperti Nabi juga menjadi pengembala Kambing. Juga totalitas dalam berkhidmah di NU melalui washilah Ansor-Banser. Dan yakinlah bahwa menjadi Banser untuk khidmah adalah pilihan terbaik, dan tidak semua orang bisa menjadi Banser.

“Insyaallah keberkahan akan senantiasa menyertai hidup kita,” pungkasnya. (Wasd/Gust)